Tampilkan postingan dengan label Akidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akidah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2016

Syaikh Nawawi Al-Bantani Jelaskan Aqidah Aswaja; Allah Ada Tanpa Tempat


Salah seorang ulama terkemuka Indonesia yang sangat masyhur di dunia Islam, Asy-Syaikh al-‘Allamah al-Faqih Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi asy-Syafi’i (w 1314 H) telah menuliskan berbagai karya dalam penjelasan akidah Ahlussunnah. Dalam banyak karyanya beliau menjelaskan bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya, dan bahwa Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah, di antaranya dalam kitab berjudul Ats-Tsimaral-Yani’ah dalam penjelasan sifat yang mustahil atas Allah; yaitu al-Mumatsalah Li al-Hawadits, beliau menuliskan sebagai berikut:

    "أو يكون تعالى في جهة للجرم بأن يكون عن يمينه أو شماله أوفوقه أو تحته أو أمامه أو خلفه، أو يكون له تعالى جهة بأن يكون له يمين أو شمال أوفوق أو تحت أو خلف أو أمام، أو يتقيد بمكان بأن يحل فيه بأن يكون فوق العرش"

“Contohnya, mustahil adanya Allah pada suatu arah dari suatu benda, seperti berada di samping kanan benda tersebut, atau di samping kirinya, atau di atasnya, atau di bawahnya, atau di depannya, dan atau di belakangnya. Demikian pula mustahil Allah berada pada arah, seperti arah kanan, arah kiri, arah atas, arah bawah, arah belakang, atau arah depan. Demikian pula mustahil Allah terliputi oleh tempat, atau menyatu di dalam tempat tersebut, seperti keyakinan adanya Allah bertempat di atas Arsy”[1].

Dalam kitab karya beliau yang lainnya berjudul Nur azh-Zhalam, Asy-Syaikh Nawawi al-Jawi menuliskan:

    "وكل ما خطر ببالك من صفات الحوادث لا تصدق أن في الله شيئامن ذلك، وليس له مكان أصلاً فليس داخلاّ في الدنيا ولا خارجا عنها"

“Segala sesuatu yang terlintas di dalam benakmu dari segala sifat-sifat benda maka jangan sekali-kali engkau berkeyakinan bahwa Allah bersifat walaupun dalam satu segi dari sifat-sifat tersebut. Allah sama sekali tidak bertempat, maka Dia bukan berada di dalam alam dunia ini, juga buka berada di luarnya”[2].

Dalam kitab karya beliau lainnya berjudul Kasyifah as-Saja Syarh Safînah an-Naja, Asy-Syaikh Nawawi menuliskan sebagai berikut:

    من ترك أربع كلمات كمل إيمانه أين ووكيف ومتى وكم،فإن قال لك قائل أين الله؟ فجوابه ليس في مكان ولا يمر عليه زمان، وإن قال لك كيف الله؟فقل ليس كمثله شيئ، وإن قال لك متى الله؟ فقل له أول بلا ابتداء وءاخر بلا انتهاء،وإن قال لك قائل كم الله؟ فقل له واحد لا من قلة قل هو الله أحد

“Faedah: Barangsiapa meninggalkan empat kalimat ini (artinya tidak mempertanyakan kalimat tersebut kepada Allah) maka sempurnalah keimanannya, yaitu; di mana, bagaimana, kapan, dan berapa. Jika seseorang berkata kepada anda: Di mana Allah? Maka jawablah: Dia ada tanpa tempat dan tidak terikat oleh waktu. Jika ia berkata: Bagaimana Allah? Maka jawablah: Dia tidak menyerupai suatu apapun dari makhluk-Nya. Jika ia berkata: Kapan Allah ada? Maka jawablah: Dia Allah al-Awwal; ada tanpa permulaan dan Dia al-Akhir; ada tanpa penghabisan. Jika ia berkata: Berapa Allah? Maka jawablah: Dia Allah Maha Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, Dia Maha Esa bukan dari segi hitungan yang berarti sedikit. -Tetapi dari segi bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada yang menyerupai-Nya”[3].

Dalam kitab tafsir karyanya berjudul At-Tafsîr al-Munir Li Ma’alim at-Tanzil, Syaikh Nawawi al-Bantani dalam menafsirkan QS. Al-A’raf: 54 pada firman Allah “Tsumma Istawa ‘Ala al-‘Arsy” menuliskan sebagai berikut:

    "وَالْوَاجِبُ عَلَيْنَا أَنْ نَقْطَعَ بِكَوْنِهِ تَعَالَى مُنَزَّهًاعَنِ الْمَكَانِ وَالْجِهَةِ..."

“Wajib bagi kita menetapkan keyakinan bahwa Allah Maha Suci dari tempat dan arah”[4]. 

Oleh : Ust. Kholil Abu Fatih, Lc.

[1] Ats-Tsimaral-Yani’ah i ar-Riyadl al-Badi’ah, h. 5
[2] Nurazh-Zhalam Syarh ‘Aqidah al-‘Awam, h. 37
[3] Kasyifah as-Saja Bi Syarh Safinah an-Naja, h. 9
[4] At-Tafsiral-Munir, j. 1, h. 282


Minggu, 09 Oktober 2016

Sejarah dan Asal Muasal Kitab 'Aqidatul 'Awam karya Syaikh Ahmad Al-Marzuqiy



Kitab Nadham 'Aqidatul 'Awam (عقيدة العوام) merupakan kitab yang berisi syair-syair (nadham) tentang tauhid, kitab ini dikarang oleh Syaikh as-Sayyid al-Marzuqiy. Nama lengkap beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Sayyid Ramadhan al-Marzuqiy al-Hasaniy wal Husainiy al-Malikiy, al-Mishriy al-Makkiy, dilahirkan sekitar tahun 1205 H di Mesir. Sepanjang waktu beliau bertugas mengajar di Masjid Mekkah. Karena kepandaian dan kecerdasannya, beliau kemudian diangkat menjadi Mufti Madzhab Maliki di Mekkah menggantikan Sayyid Muhammad yang wafat sekitar tahun 1261 H. Syaikh Ahmad al-Marzuqiy juga terkenal sebagai seorang pujangga dan dijuluki dengan Abu Alfauzi.

هو شيخ قراء مكة السيد الشريف الشيخ أبو الفوز أحمد بن محمد بن السيد رمضان المرزوقي الحسني والحسيني المالكي ، ‏ المصري ثم المكي ، والمرزوقي نسبة إلى العارف بالله مرزوق الكفافي . وآل المرزوقي مشهورون بالعلم والتقوى والورع

Salah satu guru beliau adalah Asy-Syaikh al-Kabir as-Sayyid Ibrahim al-‘Ubaidiy, beliau adalah ulama yang berkonsentasi pada Qira’ah al-Asyrah (Qira’ah 10).

Dan di antara murid-murid beliau adalah Syaikh Ahmad Damhan (1260 – 1345 H), Syaikh as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (1232 – 1304 H), Syaikh Thahir at-Takruniy dan lain sebagainya.

Salah satu kitab yang beliau karang adalah kitab 'Aqidatul 'Awam. Beliau mengarang kitab ini, bermula ketika beliau mimpi berjumpa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Sahabatnya pada akhir malam Jum'at pertama di bulan Rajab.

Kitab 'Aqidatul 'Awam telah beliau rincikan dalam sebuah kitab syarah yang diberi nama Tahshil Nail al-Maram Libayani Mandhumah ‘Aqidah al-‘Awam (تحصيل نيل المرام لبيان منظومة عقيدة العوام), dan turut memberikan syarah atas kitab ‘Aqidatul 'Awam yaitu Syaikh al-Imam an-Nawawiy ats-Tsaniy al-Bantaniy al-Jawiy asy-Syafi’i dengan nama kitab Nurudl Dlalam ‘alaa Mandhumah ‘Aqidah al-‘Awam (نور الظلام على منظومة عقيدة العوام) dan juga kitab syarah yang dikarang oleh Syaikh Ahmad al-Qaththa’aniy al-‘Aysawiy dengan nama Tashil al-Maram li Daarisil 'Aqidatil 'Awam (تسهيل المرام لدارس عقيدة العوام).

Dalam kitab Nurudl Dlalam, Imam an-Nawawiy ats-Tsaniy al-Jawiy menuturkan bahwa alasan Syaikh al-Marzuqiy menulis kitab tersebut adalah karena beliau mimpi berjumpa dengan Rasulullah dan para sahabatnya. Dalam mimpi itu Rasulullah bersabda,

اقرأ منظومة التوحيد التي من حفظها دخل الجنة ونال المقصود من كل خير وافق الكتاب والسنة

“Bacalah nadham tauhid yang barangsiapa yang memeliharanya akan masuk surga dan tercapai tujuan (maksud) dari segala kebaikan yang selaras dengan Qur’an dan Sunnah.”

Syaikh al-Marzuqiy berkata,

وما تلك المنظومة يا رسول الله

Nadham-nadham apakah itu wahai Rasulullah?”

Para sahabat Nabi berkata,

اسمع من رسول الله ما يقول

“Dengarkanlah apa-apa yang akan Rasulullah katakan.”

Rasulullah bersabda,

قل أبدَأُ باسْمِ اللهِ والرَّحْمنِ

“Katakanlah, aku memulai dengan menyebut nama Allah yang Maha Penyayang”

Maka, Syaikh al-Marzuqiy pun berkata,

أبدَأُ بِاسْمِ اللهِ والرَّحْمَنِ ... إلى آخرها

“Aku memulai dengan menyebut Asma Allah yang Maha Penyayang …. (ilaa akhirihi, sampai nadham yang Rasulullah ajarkan selesai)”

Yaitu sampai pada bait,

وَصُحُـفُ الـخَـلِيلِ وَالكَلِيمْ : فِيهَـا كَلامُ الْـحَـكَمِ الْعَلِيمْ

Nabi pun berdo’a dan para Sahabat mengaminkannya. Begitulah asal mula Syaikh al-Marzuqiy mengarang kitab ‘Aqidatul ‘Awam. Mula-mula nadham-nya berjumlah 26 bait, kemudian Syaikh al-Marzuqiy menambahkan lagi sebanyak 31 bait hingga berjumlah 57 bait, karena kecintaan Syaikh al-Marzuqiy kepada Rasulullah. 31 nadham yang ditambahkan tersebut dimulai dengan bait berikut,

وَكُلُّ مَا أَتَى بِهِ الرَّسُولُ : فحَقُّهُ التسْليمُ وَالْقَبُولُ

Hingga selesai yaitu sampai pada bait,

أبْيَاتُهَا ( مَـيْـزٌ ) بِـعَدِّ الْجُمَّل : تَارِيْخُها ( لِيْ حَيُّ غُرٍّ ) جُمَّلِ
سَـمَّـيْـتُـهَا عَـقِـيْدَةَ الْـعَوَام : مِـنْ وَاجِبٍ فِي الدِّيْنِ بِالتَمَامِ

Huruf-huruf pada lafadz (مَـيْـز) dalam hitungan Jummal berjumlah 57 yaitu (م)=40, (ي)=10, (ز)=10. Angka 57 tersebut adalah jumlah dari nadham (bait) dari kitab ‘Aqidatul ‘Awam, oleh karena itu baitnya berbunyi,

“Jumlah bait-baitnya adalah (ميز) atau 57 berdasarkan hitungan Jummal
“Sejarahnya (selesainya) adalah (لِيْ حَيُّ غُرٍّ) atau 1258 juga berdasarkan hitungan Jummal

Angka 1258 adalah tahun selesainya nadhamAqidatul ‘Awam yaitu 1258 Hijriyah. Rincian dari kalimat (لِيْ حَيُّ غُرٍّ) adalah (ل)=30, (ي)=10, (ح)=8, (ي)=10, (غ)=1000, (ر)=200.

Kitab yang sangat berharga dalam membangun akidah ini, diawali dengan pujian kepada Allah dan shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para Sahabat serta orang-orang yang mengikut jalan agama yang benar (Dinul Haq).

أبـْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ والـرَّحْـمَن : وَبِـالـرَّحِـيـمِ دَائـِمِ الإحْـسَان
فالـحَـمْـدُ للهِ الـقَدِيْمِ الأوَّلِ : الآخِـرِ الـبَـاقـِيْ بِلا تـَحَـوُّلِ
ثـُمَّ الـصَّلاةُ وَالسَّلامُ سَرْمَدَا : عـَلَـى الـنَّـبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ وَحَّدا
وآلِهِ وَصَـحْبِهِ وَمَـنْ تَـبِـعْ : سَـبِـيلَ دِيْنِ الْحَقِّ غَيْرَ مُـبْـتَدِعْ

Berikutnya tentang sifat wajib bagi Dzat Allah dan juga sifat jaiz yang wajib diketahui oleh setiap kaum muslimin yang mukallaf.

وَبَـعْـدُ فَاعْلَمْ بِوُجُوبِ الْمَعْرِفَـهْ : مِنْ وَاجِـبٍ للهِ عِـشْرِينَ صِفَهْ
فـَاللهُ مَـوْجُـودٌ قـَدِيمٌ بَاقِـي : مُخَـالـِفٌ لِلْـخَـلْقِ بِالإطْلاقِ
وَقَـائِمٌ غَـنِـيْ وَوَاحِـدٌ وَحَيّ : قَـادِرٌ مُـريـدٌ عـَالِمٌ بكلِّ شَيْ
سـَمِـيعٌ البَـصِـيْـرُ والْمُتَكَلِـمُ : لَهُ صِـفَـاتٌ سَـبْـعَـةٌ تَـنْـتَظِمُ
فَقُـدْرَةٌ إرادَةٌ سـَمْـعٌ بـَصَرْ : حَـيَـاةٌ الْـعِلْـمُ كَـلامٌ اسْـتَمَرْ
وَجَائـِزٌ بـِفَـضْـلِهِ و عَدْلِهِ : تـَرْكٌ لـِكُـلِّ مُمْـكِـنٍ كَفِعْلِهِ

Sifat yang wajib terdiri dari 20 sifat yaitu al-Wujud (ada). Dalam kitab Nurudl Dlolam dituturkan dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah firman Allah,

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (QS. Thaaha : 14)

Dan dalam kitab Al-‘Aqidah ad-Diniyyah karangan Syaikh Abdurrahman bin Saqaf bin Husain as-Saqaf al-‘Alwiy al-Husainiy asy-Syafi’i al-Asy’ariy dituturkan bahwa makna Wujud di dalam haq Allah adalah menyakini secara pasti (al-I’tiqadu al-Jazimu) bahwa sesungguhnya Allah itu ada secara haq (muhaqqaqan) tidak ada keraguan tentang hal itu, dan dalil yang menunjukkannya adalah firman Allah,

اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الأَنْهَارَ, وَسَخَّر لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَآئِبَينَ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ , وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai, Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang, Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim : 32-34)

Sifat yang bertentangan sifat Maujud atau sifat yang mustahil bagi Haq Allah adalah al-‘Adam (ketiadaan). Berikutnya, al-Qadim (terdahulu), tidak ada awal bagi keberadaan Allah, tidak menciptakan diri-Nya sendiri dan tidak pula diciptakan oleh selain-Nya, berdasarkan firman Allah,

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan” (QS. Al-Ikhlas : 3)

Maksud dari sifat ini, dalam karya Syaikh as-Saqaf diterangkan adalah wajib bagi umat Islam ber-i’tiqad secara pasti (al-I’tiqadu al-Jazimu) bahwa keberadaan Allah adalah terdahulu dan tidak ada awalnya bagi keberadaan Allah, dalil tentang hal ini adalah,

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Hadiid : 3)

Maka dari itu mustahil bagi Allah memiliki sifat al-Huduts (baru).

Di atas adalah sekilas tentang penjelasan dua sifat wajib Allah dalam nadham ‘Aqidatul 'Awam dari kitab syarah-nya yaitu kitab Nurudl Dlalam karya Imam an-Nawawiy ats-Tsani al-Jawiy dan juga disertai penjelasan dari kitab Ad-Aqidah ad-Diniyah karya Syaikh as-Saqaf yang banyak diajarkan di sekolah-sekolah Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dan juga di pesantren Ahlussunnah wal Jama’ah.

Sifat berikutnya dari 20 sifat yang wajib bagi Allah adalah al-Baqa’ (kekal), al-Mukhalafah lil-Hawaaditsi (berbeda dengan makhluk), al-Qiyamu bin Nafs (berdiri sendiri), al-Wahdaniyah (Maha Esa), al-Qudrah (Maha Berkuasa), al-Iraadah (Maha Berkehendak), al-‘Ilm (Maha Mengetahui), al-Hayyu (Maha Hidup), as-Sam’u wa al-Bashar (Maha Mendengar lagi Maha Melihat), al-Kalam (Maha Berfirman). Berikutnya, Qadiran (Dzat yang Berkuasa), Muridan (Dzat yang Berkehendak), ‘Aliman (Dzat yang Mengetahui), Hayyan (Dzat yang Hidup), Sami’an (Dzat yang Mendengar), Bashiran (Dzan yang Melihat), Mutakalliman (Dzat yang Berfirman).

Kebalikan dari sifat wajib bagi Allah adalah sifat yang mustahil yaitu sifat yang bertentangan dengan haq Allah, antara lain ; al-‘Adam (tiada), al-Huduts (baru), al-Fana’ (rusak), al-Mumatsalah lil-Hawaditsi (menyerupai dengan makhluk), al-Ihtiyaaju ilaa syai’in minal hawaditsi (butuh kepada makhluk), at-Ta’addu (berbilang), al-‘Ajzu (lemah), al-Karahah (terpaksa), al-Jahlu (bodoh), al-Maut (mati), ash-Shamamu (tuli), al-‘Amaa (buta), al-Bakamu (bisu), selanjutya Kaunuhu ‘Aajizan (Dzat yang lemah), Kaunuhu Mukrahan (Dzat yang terpaksa), Kaunuhu Jaahilan (Dzat yang bodoh), Kaunuhu Mayyitan (Dzat yang mati), Kaunuhu Ashamma (Dzat yang tuli), Kaunuhu A’maa (Dzat yang buta), Kaunuhu Abkama (Dzat yang bisu). Mahasuci Allah dari semua itu, Maha Tinggi Allah lagi Maha Besar.

Dari 20 sifat wajib bagi Allah, terbagi menjadi 4 macam yaitu sifat an-Nafsiyah, sifat as-Salbiyah, sifat al-Ma’aniy dan sifat al-Ma’nawiyah. Pembagiannya sebagai berikut ;

الصفات الواجبة لله تعالى عشرون صفة وهي أربعة أقسام :
1. الصفة النفسية : الوجود
2. الصفات السلبية (لأنها سلبت عن الله النقائص) :القِدَم –البَقاء – مخالفته للحوادث – قيامه بالنفس – الوحدانية
3. الصفات المعاني :القدرة – الإرادة – العلم – الحياة – الكلام – السمع –البصر
4. الصفات المعنوية : كونه حيّاً – كونه عليماً – كونه قادراً – كونه مريداً – كونه سميعاً – كونه بصيراً – كونه متكلماً

Tentang sifat al-Ma’aniy dan sifat al-Ma’anawiyah, Imam an-Nawawiy ats-Tsaniy mengumpamakannya bahwa al-Ma’anniy seperti al-Ashl (asal), sedangkan al-Ma’awiyah adalah cabang. Sebab sifat al-Ma’nawiyah merupakan sifat-sifat tidak ada seperti yang demikian kecuali dinisbatkan kepada ma’ani-nya.

Sifat Jaiz bagi Allah adalah ,

وَجَائـِزٌ بـِفَـضْـلِهِ و عَدْلِهِ : تـَرْكٌ لـِكُـلِّ مُمْـكِـنٍ كَفِعْلِهِ

“dan boleh (jaiz) dengan karunia dan keadilan-Nya, Allah meninggalkan sesuatu ataupun mengerjakannya”

Dalam hal ini, setiap muslim wajib berkeyakinan bahwa Allah subhanahu wa ta’alaa boleh (jaiz) untuk menciptakan sesuatu ataupun tidak menciptakannya, jaiz bagi Allah menciptakan kebaikan ataupun keburukan, jaiz bagi Allah semisal menjadikan Zaid itu muslim dan Umar itu kafir, menjadikan salah satu dari keduanya itu cerdas ataupun menjadikan bodoh, tidak wajib bagi Allah atas semua itu berdasarkan hukum akal dalam ilmu tauhid. Dalil yang menunjukkan atas hal ini adalah,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.(QS. Al-Qashash : 68)

Bait-bait berikutnya membahas tentang sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Nabi dan Rasul Allah.

أَرْسَـلَ أنبيا ذَوِي فـَطَـانَـهْ : بِالصِّـدْقِ وَالـتَـبْلِـيغِ والأمَانَهْ
وَجَـائِزٌ فِي حَقِّهِمْ مِنْ عَرَضِ : بِغَـيْـرِ نَقْصٍ كَخَفِيْفِ الْمَرَضِ
عِصْـمَـتُهُمْ كَسَائِرِ الْمَلائِكَهْ : وَاجِـبَـةٌ وَفَـاضَلُوا الـمَـلائِكَهْ
وَالْـمُسْـتَحِيلُ ضِدُّ كُلِّ وَاجِبِ : فـَاحْـفَظْ لِخَمْسِينَ بِحُكْمٍ وَاجِبِ

Wajib bagi setiap muslim yang mukallaf berkeyakinan bahwa Allah mengutus para Nabi dan Rasul dengan 4 sifat yang wajib pada haq mereka yaitu al-Fathanah (cerdas), as-Shiddiq (Jujur), at-Tabligh (Menyampaikan risalah) dan al-Amanah (Terpercaya). Di dalam kitab Nurudl Dlalam dituturkan bahwa sifat-sifat wajib yang merupakan haq Rasul juga termasuk haq para Nabi kecuali sifat at-Tabligh karena ini khusus untuk para Rasul, sebab Nabi bukanlah Rasul dan tidak menyampaikan risalah.

Sifat jaiz pada haq para Rasul dan Nabi adalah sifat-sifat kemanusiaan (sifat-sifat yang memang dimiliki oleh seorang manusia) yaitu wajib bagi setiap muslim berkeyakinan bahwa jaiz bagi haq para Rasul dan para Nabi memiliki sifat-sifat basyariyah (kemanusiaan) yang tidak sampai menyebabkan berkurangnya martabat atau derajat mereka, seperti sakit yang ringan, dan juga seumpama makan, minum, berdagang, melakukan perjalanan, berperang, menikah, tidur dan lain sebagainya.

Dituturkan dalam kitab syarah-nya, bahwa Nabi dan Rasul tidak ada yang perempuan ataupun waria. Pendapat yang mengatakan bahwa ada 6 Nabi perempuan yaitu Maryam, Asiyah, Hawa, Ummu Musa, Hajar dan Sarah adalah pendapat yang marjuh. Adapun Luqman juga bukanlah Nabi melainkan seorang hamba yang bertakwa dan murid dari para Nabi.

Nabi dan Rasul adalah ma’sum sebagaimana Malaikat. Wajib bagi seorang muslim berkayakinan bahwa seluruh Nabi dan Rasul itu wajib ma’shum sebagaimana ke-ma’shum-an itu wajib bagi seluruh malaikat ‘alaihimus shalatu was sallam. Allah menjaga mereka dari dosa serta hal-hal yang mustahil bagi haq mereka. Lafadz “wa fadlaluw al-Malaaikah”,

وَفَـاضَلُوا الـمَـلائِكَهْ

Maksudnya adalah para Nabi dan para Rasul lebih utama dari para Malaikat. Adapun yang lebih utama di antara para Rasul Allah adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi ‘Isaa dan selanjutnya Nabi Nuh, mereka itulah yang disebut Ulul ‘Azmi. Wajib mengetahui urutan kelima Nabi tersebut.

Maka, dari itu semua mustahil bagi para Nabi dan Rasul memiliki sifat kebalikan dari sifat wajib yaitu al-Balaadah (bodoh), al-Kadzib (pembohong), al-Kitman (menyembunyikan) dan al-Khiyanah (berkhianat). Setiap muslim wajib berkeyakinan bahwa sifat-sifat seperti itu mustahil dimiliki oleh para Nabi dan Rasul Allah.

Bait-bait berikutnya adalah tentang rincian para Nabi dan Rasul Allah,

تـَفْصِيلُ خَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ لَزِمْ : كُـلَّ مُـكَـلَـفٍ فَحَقِّقْ وَاغْـتَنِمْ
هُمْ آدَمُ اِدْرِيْسُ نُوْحٌ هُوْدُ مَعْ : صَالِـحْ وَإِبْرَاهِـيْـمُ كُـلٌّ مُـتَّبَعْ
لُوْطٌ وَاِسْـمَاعِيلُ اِسْحَاقٌ كذا : يَعْـقُوبُ يُوسُفٌ وَأَيـُّوْبُ احْتَذى
شُعَيبُ هارونُ وموسى وَالْـيَسَعْ : ذو الْكِـفْلِ دَاوُدُ سُلَيْمانُ اتَّـبَعْ
إلْـيَـاسُ يُونُسْ زَكَرِيـَّا يَحْيَى : عِـيْسـى وَطَـه خاتِمٌ دَعْ غَـيَّا
عَلَـيْـهِـمُ الصَّـلاةُ والسَّـلامُ : وآلِهِـمْ مـَـا دَامَـتْ الأيـَّـامُ

Wajib bagi seorang muslim mengetahui rincian 25 Rasul Allah. Kata (لَزِمْ) pada bait di atas adalah bermakna wajib, sebagaimana dituturkan dalam syarah-nya dan disebutkan pula bahwa pendapat yang dituturkan dalam nadham di atas berbeda dengan apa yang dituturkan oleh As-Suhaimy yang juga mewajibkan bagi seorang muslim mengetahui secara rinci anak-anak dari para Rasul, perempuan-perempuannya (istri-istrinya), khadim-khadim dari para Rasul yang disebutkan di dalam Al-Qur’an yang membenarkan dan beriman kepada mereka, dan tidak boleh berkeyakinan bahwa mengetahui semua itu hanya wajib untuk Sayyidina Muhammad semata, karena beriman kepada semua Nabi itu sama saja.

25 Nabi tersebut adalah Adam, Idris, Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, Luth, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Su’aib, Harun, Musa, Yasa’, Dzul Kifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Yunus, Zakariyya, Yahya, ‘Isa dan Nabi Thaha (Muhammad).

Dalam syarah-nya dituturkan, lafadz Thaha (طَـه) sebagaimana disebutkan dalam nadham adalah nama lain dari Nabi Muhammad. Dikatakan, maknanya adalah purnama (badar) karena (طَ)=9 dan (ه)=5 maka jumlahnya adalah 14, dan bulan purnama muncul pada malam tanggal 14. Dikatakan, maknanya adalah obat (penawar) bagi setiap macam penyakit. Dikatakan, maknanya adalah “Thubaa limanih-Tadii” (Kebahagiaan bagi orang yang mendapat petunjuk).

Ketahuilah, seluruh Nabi-nabi yang disebutkan tersebut adalah berbangsa ‘Ajamiyah kecuali hanya 4 yang berbangsa Arab yaitu Nabi Muhammad, Nabi Hud, Nabi Shalih dan Nabi Syu’aib.

Selanjutnya bait-bait tentang Malaikat,

وَالْـمَـلَكُ الَّـذِي بِلا أبٍ وَأُمْ : لا أَكْـلَ لا شـُرْبَ وَلا نَوْمَ لَهُمْ
تَفْـصِـيلُ عَشْرٍ مِنْهُمُ جِبْرِيلُ : مِـيْـكَـالُ اسْـرَافِيلُ عِزْرَائِيلُ
مُـنْـكَرْ نَـكِـيْرٌ وَرَقِيبٌ وكذا : عَـتِـيدُ مَالِكٌ ورِضْوانُ احْتـَذى

Malaikat tidak berbapak, tidak beribu, tidak makan, tidak minum dan juga tidak tidur. Rinciannya terdiri dari 10 malaikat yaitu Jibril, Mikail, Israafil, ‘Izraail, Munkar, Nakir, Raqib, ‘Atid, Malik dan Ridwan.

Dalam syarah-nya dituturkan, wajib bagi setiap muslim yang mukallaf berkeyakinan bahwa malaikat adalah makhluk ciptaan Allah yang tidak berbapak dan beribu, bukan laki-laki, bukan perempuan dan bukan pula waria. Barangsiapa berkeyakinan bahwa malaikat adalah laki-laki maka orang itu fasik, barangsiapa berkeyakinan bahwa malaikat itu perempuan atau waria maka orang itu kafir berdasarkan Ijma’.

Bait-bait berikutnya,

أَرْبَـعَـةٌ مِنْ كُتُبٍ تَـفْصِيلُها : تَـوْارَةُ مُـوسى بالْهُدى تَـنْـزِيلُها
زَبُـورُ دَاوُدَ وَاِنْـجِـيـلٌ على : عِيـسى وَفُـرْقَانٌ على خِيْرِ الْمَلا
وَصُحُـفُ الـخَـلِيلِ وَالكَلِيمْ : فِيهَـا كَلامُ الْـحَـكَمِ الْعَلِيمْ

Bait-bait di atas adalah tentang shuhuf dan kitab yang diturunkan oleh Allah. Ada 4 kitab yang Allah turunkan yaitu Taurat Musa, Zabur (Mazmur) Nabi Daud, Injil Nabi 'Isa dan Furqan (Al-Qur’an) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan juga shuhuf (mushaf) Nabi Ibrahim dan mushaf Nabi Musa sebelum diturunkannya kitab Taurat. Bagi muslim yang mukallaf, semua itu wajib diyakini. Termasuk juga wajib menyakini shuhuf yang Allah turunkan, namun tidak wajib menyakini rincian jumlahnya karena tidak ada keterangan tentang ketentuan jumlahnya baik di dalam Al-Qur’an, namun berbeda dengan 4 kitab yang diturunkan, karena keterangan jumlah 4 kitab tersebut nasnya jelas di dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu wajib mengetahui rinciannya.

Demikian bait-bait yang terdapat dalam kitab 'Aqidatul ‘Awam yang merupakan bait-bait yang langsung diajarkan oleh Nabi Muhammad kepada Syaikh al-Marzuqiy. Adapun bait-bait berikutnya merupakan bait-bait tambahan oleh Syaikh al-Marzuqiy karena kecintaan beliau kepada Baginda Nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang berisi tentang pribadi Nabi Muhammad, kelahiran (di Mekkah), wafatnya Beliau (di Madinah), ayah dan ibu Nabi Muhammad, serta Ibu yang menyusui Nabi Muhammad. Selain itu, juga tentang putra-putra Nabi, istri-istri Nabi, paman dan bibi Nabi, peritiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diwajibkannya shalat maktubah.

(Sumber Ashhabur Royi. Dari redaksi Muslimoderat)

Syari’ah Aswaja An-Nahdliyah

Al-Qur’an dan Al-Hadits diturunkan secara berangsur-angsur. Tidak sekaligus. Disampaikan kepada manusia menurut kebutuhan, kepentingan, dan situasi serta kondisi yang berbeda-beda. Ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits disampaikan di Makkah, Madinah dan sekitarnya lebih limabelas abad lalu dengan cara disebarluaskan dan diwariskan kepada umat manusia dengan segala persamaan dan perbedaannya untuk sepanjang zaman dengan berbagai perubahan dan perkembangannya.

Ketika Rasulullah Saw masih hidup, umat manusia menerima ajaran langsung dari beliau atau dari sahabat yang hadir ketika beliau menyampaikan. Setelah Rasulullah Saw wafat, para sahabat – termasuk empat Khulafa'ur Rasyidin : Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali – menyebarluaskan ajaran Islam kepada generasi berikutnya. Dengan perkembangan zaman, dengan kondisi masyarakat yang kian dinamis, banyak persoalan baru yang dihadapi umat. Seringkali hal yang muncul itu tidak terdapat jawabannya secara tegas dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Maka untuk mengetahui hukum atau ketentuan persoalan baru itu maka upaya ber-ijtihad harus dilakukan.

Sesungguhnya ijtihad juga sudah dilakukan sahabat ketika Kanjeng Nabi Muhammad masih hidup. Yakni ketika sahabat menghadapi persoalan baru tapi tidak mungkin dapat ditanyakan langsung kepada Rasulullah Saw. Seperti pernah dilakukan oleh sahabat Mu’adz bin Jabalsaat ditugasi mengajarkan Islam ke Yaman. Dan pada masa-masa sesudah kurun sahabat, kegiatan ijtihad makin banyak dilakukan oleh para ulama ahli ijtihad (Mujtahid).

Di antara tokoh yang mampu ber-ijtihad sejak generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in, terdapat banyak tokoh yang ijtihad-nya kuat (disebut mujtahid mustaqil). Bukan hanya mampu ber-ijtihad sendiri tetapi juga menciptakan “pola pemahaman (manhaj)” tersendiri terhadap sumber pokok hukum Islam, Al-Qur’an dan Al-Hadits. Ini dicerminkan dengan metode ijtihad yang dirumuskan sendiri, menggunakan kaidah-kaidah ushul fiqih, qawa’idul ahkam, qawa’idul fiqhiyyah dan sebagainya. Proses dan prosedur ijtihad yang mereka hasilkan dilakukan sendiri. Itu menandakan bahwa secara keilmuan dan pemahaman keagamaan serta ilmu-ilmu penunjang lainnya telah mereka miliki dan kuasai.

Pola pemahaman ajaran Islam melalui ijtihad para mujtahid, lazim disebut madzhab, berarti “jalan pikiran dan jalan pemahaman” atau “pola pemahaman”. Pola pemahaman dengan metode, prosedur, dan produk ijtihad itu juga diikuti oleh umat Islam yang tidak mampu ijtihad sendiri karena keterbatasan ilmu dan syarat-syarat yang dimiliki. Mereka lazim disebut bermadzhab atau menggunakan madzhab.

Dengan sistem bermadzhab, ajaran Islam dapat terus dikembangkan, disebarluaskan dan diamalkan dengan mudah kepada semua lapisan dan tingkatan umat Islam. Dari yang paling awam sampai paling alim sekalipun. Melalui sistem ini pula pewarisan dan pengamalan ajaran Islam terpelihara kelurusan dan terjamin kemurniannya. Itu karena ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits dipahami, ditafsiri, dan diamalkan dengan pola pemahaman dan metode ijtihad yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Walau begitu kualitas bermadzhab yang sudah ada harus terus ditingkatkan, yaitu dengan peningkatan kemampuan dan penguasaan ilmu agama Islam dengan segala jenis dan cabang-cabangnya.

Ajakan kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits tentu tidak boleh diartikan memahami kedua sumber hukum tersebut secara bebas (liberal), tanpa metode dan prosedur serta syarat-syarat yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

(Sumber dari : ahlussunnah.org)

Aqidah Aswaja An-Nahdliyah

Pada zaman Rasulullah Saw masih ada, perbedaan pendapat di antara kaum muslimin (sahabat) langsung dapat diselesaikan dengan kata akhir dari Kanjeng Nabi Muhammad. Tapi sesudah beliau wafat, penyelesaian semacam itu tidak ditemukan. Perbedaan sering mengendap lalu muncul lagi sebagai pertentangan dan permusuhan di antara mereka. Sesungguhnya pada mulanya, persengketaan akibat pertentangan imamah, bukan persoalan akidah. Dari situ, kemudian merambah ke dalam wilayah agama. Terutama seputar hukum seorang muslim yang berbuat dosa besar dan bagaimana statusnya ketika ia mati, apakah tetap mukmin atau sudah kafir.

Dari situ, pembicaraan tentang akidah masa berikutnya meluas kepada persoalan-persoalan Tuhan dan manusia. Terutama terkait perbuatan manusia dan kekuasaan Tuhan. Demikian juga tentang sifat Tuhan, keadilan Tuhan, melihat Tuhan, ke-huduts-an dan ke-qadim-an sifat-sifat Tuhan dan kemakhlukan Al-Qur’an. Dalam mempertahankan pendapat tentang persoalan tersebut terjadi perbedaan yang sangat tajam dan saling bertentangan.

Di tengah-tengah pertentangan itu, lahirlah dua kelompok moderat yang berusaha mengkompromikan keduanya. Kelompok ini kemudian dinamakan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Dua kelompok itu adalah Asy’ariyah yang didirikan oleh Imam Abul Hasan al-Asy’ari (lahir di Basrah, 260 H/873 M, wafat di Baghdad, 423 H/935 M) dan Maturidiyah yang didirikan oleh Imam Abu Manshur al-Maturidi (lahir di Maturid-Samarkand, wafat 333 H).

(Sumber dari : ahlussunnah.org)

Tiga Sendi Utama Ajaran Islam

Seperti yang sering dijelaskan, bahwa ada tiga pedoman ajaran yang menjadi standar Ahlussunnah wal Jama’ah, yakni tauhid (aqidah), fiqih dan tasawuf, ini seolah-olah ingin mengatakan bahwa inti ajaran dalam agama Islam adalah tiga hal tersebut. Bagaimanakah hal tersebut?

عَنْ عُمَرَ ابْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِى عَنِ الإِسْلاَمِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم «الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِىَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلاً». قَالَ صَدَقْتَ. قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِيمَانِ. قَالَ «أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ». قَالَ صَدَقْتَ. قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِحْسَانِ. قَالَ «أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ». قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ السَّاعَةِ. قَالَ «مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ». قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنْ أَمَارَتِهَا. قَالَ «أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِى الْبُنْيَانِ». قَالَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا ثُمَّ قَالَ لِى «يَا عُمَرُ أَتَدْرِى مَنِ السَّائِلُ». قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: «فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ» (صحيح مسلم، ص: 1، رقم 9)

Dari Umar bin Khattab Ra, dia berkata: Pada suatu hari kami berada bersama Rasulullah Saw, tiba-tiba datang kepada kami seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, sama sekali tidak nampak pada dirinya tanda-tanda kalau dia telah melakukan perjalanan jauh, dan tak seorang pun dari kami yang mengenalnya.

Kemudian laki-laki itu duduk di hadapan Nabi Saw sambil menempelkan kedua lututnya pada lutut Rasulullah Saw, sedangkan kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, laki-laki itu bertanya: “Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam”. Rasulullah Saw menjawab, “Islam adalah kamu bersaksi tiada Tuhan selain Allah Swt dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah Swt dan hendaklah kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, mengerjakan puasa pada bulan Ramadlan dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah jika kamu telah mampu melaksanakannya”. Laki-laki itu pun menjawab, “Kamu berkata benar”, Umar berkata, Tentu saja kami merasa heran kepada orang itu, sebab dia yang bertanya dan dia sendiri yang malah membenarkan (jawaban Rasululah).

Kemudian laki-laki itu kembali bertanya, Beritahukanlah kepadaku mengenai Iman!, Rasulullah Saw menjawab “Hendaklah kamu beriman kepada Allah Swt, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, beriman kepada hari akhir dan juga kepada qadar-Nya yang baik dan yang buruk”. Laki-laki itu pun menjawab, “Kamu berkata benar”, kemudian laki-laki itu bertanya lagi “Beritahukan kepada diriku mengenai Ihsan”, Rasulullah Saw menjawab “Hendaknya kamu menyembah Allah Swt seolah-olah kamu melihat-Nya, jika kamu tidak bisa merasa melihat-Nya, maka hendaklah kamu merasa dilihat-Nya (Allah Swt melihatmu). Laki-laki itu bertanya lagi “Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat!” Rasulullah menjawab, “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui dibanding orang yang bertanya. Laki-laki itu berkata “Kalau begitu beritahukanlah tentang tanda-tandanya saja!” Rasulullah Saw berkata “Kalau sudah ada budak melahirkan tuannya, kalau kamu telah menyaksikan orang yang tidak beralas kaki dan tidak berbusana dari kalangan orang-orang melarat penggembala domba saling berlomba-lomba mendirikan bangunan yang tinggi.”

Umar berkata “Kemudian orang itu pergi. Setelah itu aku (Umar) diam beberapa saat, kemudian Rasulullah Saw bertanya kepadaku, “Wahai Umar, tahukah dirimu siapakah laki-laki yang datang bertanya tadi? Aku menjawab, Hanya Allah Swt dan Rasul-Nya saja yang mengetahui. Rasulullah Saw lalu bersabda: Sesungguhnya laki-laki itu adalah Jibril As. Ia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kepada kalian semua. (Shahih Muslim, bab Ma’rifat al-Iman wa al-Islam, juz 1, hal. 28)

Memperhatikan hadits di atas, maka ada tiga hal penting yang menjadi inti dari agama yang diajarkan oleh Rasulullah Saw, yakni Islam, Iman dan Ihsan. Ketiga hal ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam pengalaman kehidupan beragama tiga perkara itu harus diterapkan secara bersamaan tanpa melakukan pembedaan. Seorang muslim tidak diperkenankan hanya terlalu mementingkan aspek Iman dan Islam dan begitu juga sebaliknya. Sebagaimana firman Allah Swt:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ (سورة البقرة: 208)

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu menuruti  langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Qs. Al-Baqarah: 208)

Dan dari dalil di atas, dapat kita ketahui bahwa inti ajaran Islam adalah Iman, Islam dan Ihsan yang harus diamalkan secara kaffah (menyeluruh) dan dari perjalanan sejarah, secara keilmuan berkembang dan dikolaborasi menjadi ilmu tauhid, fiqih, dan tasawuf.

(Sumber dari:  ahlussunnah.org)